Tampilkan postingan dengan label PLTU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PLTU. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Agustus 2019

KPBB Minta Pemerintah Perketat Aturan Pembuangan Asap PLTU Batubara

KPBB Minta Pemerintah Perketat Aturan Pembuangan Asap PLTU Batubara

Wacana pengembangan mobil listrik kembali mencuat di Tanah Air. Pengembangan mobil ramah lingkungan ini bahkan didukung Presiden Joko Widodo atau Jokowi dengan menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) mengenai industri mobil listrik. Perpres tersebut diteken Jokowi pada Senin, 5 Agustus 2019 lalu.
Masalah yang dikhawatirkan dari mobil listrik ini ialah sumber tenaga listrik di Indonesia yang masih bertumpu pada bahan bakar beremisi karbon. Misalnya saja batubara yang digunakan sebagai bahan pembangkit PLTU.
Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Ahmad Safrudin menyebut bahwa kekhawatiran ini bisa diatasi bilamana pemerintah atau dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memperketat standar baku mutu emisi di PLTU.
"Katakan tetap PLTU Batubara ya, asal PLTU Batubarnya diperketat soal standar emisi ya silakan saja," kata Safrudin di Balaikota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Minggu (19/8).
Pengetatan ini bisa dilakukan dengan beragam metode. Salah satunya mengimbau PLTU Batubara untuk memasang alat penangkap debu. "Disuruh pasang scrubber untuk menangkap debu dari cerobong," katanya.
Namun, masalahnya selama ini pemerintah tidak ketat dalam mengawasi emisi dari PLTU Batubara. Bahan, dia melihat bahwa pemerintah lebih berpihak kepada PLTU dibandingkan kesehatan masyarakat.
Kecenderungan itu dapat dilihat dari penolakan secara tidak langsung KLHK saat KPBB meminta kemeterian itu memperketat standar baku mutu pabrik dan PLTU tahun lalu. Dia mengamini bahwa KLHK memang merevisi peraturan mengenai standar baku mutu, akan tetapi baru akan diterapkan untuk 2021 nanti.
"Memang direvisi tapi tetap longgar. Kalau 2021 ya udah terlambat itu. Udah terlalu polutif," imbuh Safrudin.

sumber: liputan6.com

Festival Energi Bersih Digelar Dekat PLTU Batubara Celukan Bawang

Festival Energi Bersih Digelar Dekat PLTU Batubara Celukan Bawang
Add caption
Melanjutkan protes terhadap pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara di Celukan Bawang, Buleleng, Bali, Greenpeace bersama akan menggelar festival energi ramah lingkungan.
"Seluruh acaranya menggunakan 100% energi terbarukan," kata Satrio Swandiko, Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Rabu (21/8).
Acara bertajuk Summer Festival ini diselenggarakan pada 23-25 Agustus 2019 bertujuan untuk mengajak anak muda mempopulerkan penggunaan energi terbarukan serta mengakhiri era batu bara.
Bentuknya, berupa konser, workshop, dan melibatkan jejaring komunitas Jawa - Bali. Bersamaan dengan penyelenggaraan festival, juga dirilis sebuah album berjudul Senandung Energi Bumi yang melibatkan 13 musisi indie tanah air, dan telah dirilis melalui platform digital seperti Joox, Spotify, dan iTunes.
Inisiatif festival ini datang dari masyarakat Celukan Bawang, Bali yang telah merasakan dampak penggunaan energi kotor batu bara. PLTU batu bara Celukan Bawang tahap 1 yang beroperasi sejak 2015 telah meminggirkan penghidupan nelayan dan petani kelapa serta mencemari laut dan udara Bali.
PLTU Celukan Bawang II yang saat ini sedang direncanakan memiliki kapasitas 2 x 330 Megawatt atau hampir dua kali lipat PLTU Celukan Bawang I, yaitu 3 x 142 Megawatt. Dengan kapasitas sebesar itu, PLTU tersebut akan menghasilkan polusi udara dan dampak merugikan yang lebih besar bagi masyarakat Bali dan ekosistem di sekitarnya.
PLTU Celukan Bawang (dok.Kumparan)
Menurut Satrio, gugatan untuk pembatalan ijin pengembangan PLTU sendiri saat ini sudah sampai di tingkat kasasi . Namun pihaknya, khawatir gugatan itu pun akan kandas. Hanya , kata dia, Gubernur Bali yang baru Wayan Koster telah menegaskan komitmen untuk menghentikan ekspansi PLTU batu bara dan beralih ke energi bersih.
“Komitmen Gubernur ini harus segera diwujudkan, salah satunya dengan segera menyelesaikan peraturan gubernur mengenai energi bersih. Bali harus menjadi percontohan energi terbarukan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, lingkungan, dan ekonomi,” katanya.
Salah-satu musisi yang terlibat dalam acara ini Ian dari Zat Kimia Band senang bisa diajak berkolaborasi. "Kebetulan tema lagu kami memang dekat dengan pelestarian alam," ujarnya. Dalam album kolaborasi, dia menyumbang lagu berjudul 'Aku' yang liriknya merupakan perenungan atas keserakahan manusia yang ingin menguasai alam seutuhnya. (kanalbali/RFH)
Sumber: kumparan.com